Aktivis pembangkang Cina Chen Guangcheng akhirnya tiba di New York, Amerika Serikat untuk memulai kehidupan baru negeri itu. Sebelumnya, setelah menunggu selama beberapa pekan, Chen bersama istri dan kedua anaknya akhirnya menerima paspor mereka dan diizinkan untuk terbang ke Amerika Serikat. Chen dan keluarganya tiba di Bandara Newark, New Jersey pada Sabtu (19/5) sore waktu setempat.
Berbicara di luar Universitas New York, tempat Chen akan melanjutkan studinya, dia mengatakan Cina menyelesaikan masalah ini dengan cukup tenang dan terkendali. Namun, Chen mengungkapkan kekhawatirannya atas nasib keluarganya di Cina.
"Aksi balas dendam di Shandong tak kunjung mereda dan hak saya untuk beracara diberangus, Kami berharap akan ada penyelidikan menyeluruh atas masalah ini," kata Chen.
Chen mengucapkan terima kasih kepada pemerintah AS dan para pendukungnya atas bantuan mereka sehingga dia bisa keluar dari Cina. Dia juga berharap semua pihak yang bekerja bersamanya dapat mempromosikan keadilan dan kesetaraan di Cina. Aktivis tuna netra ini mengatakan dia berada di Amerika untuk 'menyembuhkan' tubuh dan jiwanya.
Krisis diplomatik
Chen Guangcheng menghabiskan enam hari di Kedutaan Besar AS di Beijing bulan lalu setelah berhasil kabur dari tahanan rumah. Kejadian ini langsung menyulut krisis diplomatik antara Amerika dan Cina. Pengacara otodidak ini melakukan kampanye anti aborsi paksa untuk mensukseskan program satu anak yang dicanangkan pemerintah Cina Pada 2002 Chen dijatuhi hukuman penjara karena mengganggu lalu lintas dan merusak properti warga. Dan pada 2010 Chen dibebaskan namun harus menjalani tahanan rumah.
Saat ini Chen mendapatkan beasiswa di Institut Hukum AS-Asia di Fakultas Hukum Universitas New York. Presiden organisasi China Aid, Bob Fu yang juga salah satu pendukung Chen kepada BBC mengatakan Chen berencana tinggal di New York selama dua atau tiga tahun.(bbc)