
Seorang petugas polisi Inggris atau Scotland Yard mundur dari pekerjaannya setelah pihak Dinas Intelijen Inggris (MI5) menuduhnya sebagai mata-mata Al Qaeda. Pria keturunan Bangladesh itu kini menuntut pemerintah karena bersikap diskriminatif.
Abdul Rahman mundur dari kepolisian setelah atasannya dicabut keanggotaannya karena mengundang kecurigaan. Berdasarkan laporan intelijen, Rahman dicurigai sempat mengikuti pelatihan teror di Pakistan sebelum bergabung dengan Scotland Yard.
Ayah empat itu mengakui memang sempat bepergian ke Pakistan. Tetapi dirinya menolak anggapan yang menyatakan bahwa dirinya ikut pelatihan dengan teroris Pakistan. Demikian diberitakan Daily Mail, Senin (14/5/2012).
Rahman pun tidak bisa meminta bukti yang diajukan oleh polisi dan MI5 mengenai tuduhan tersebut. Kedua lembaga keamanan ini beralasan tidak ingin membongkar sumber mereka, karena itu bersifat sensitif.
Polisi mencurigai Rahman teridentifikasi mata-mata Al Qaeda yang bergabung di kamp militan di wilayah perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar bagaimana dirinya bisa masuk ke kepolisian dan bekerja selama tiga tahun.
Rahman yang lahir di Bangladesh dan menjadi warga Inggris pada usia sembilan tahun bergabung dengan Scotland Yard pada 2003. Pengungkapan kasusnya ini terjadi setelah MI5 dan detektif antiteror melakukan pengkajian atas keamanan mereka pada July 2005.
Pria berusia 33 tahun itu bersekolah di madrasah sebagai bentuk cara untuk memasuki sekolah jurusan teknik di Inggris.
Tidak dijelaskan nama madrasah tempatnya bersekolah. Diyakini beberapa madrasah di Pakistan memiliki reputasi menghasilkan sosok ekstrimis dan bertujuan untuk membentuk pemuda Muslim radikal.
Pria yang berdomisili di Tower Hamlets ini menolak akan membahas kasusnya. Jasmine van Loggerenberg yang selama ini menjadi pengacaranya mengatakan, kliennya menolak segala macam tuduhan yang diarahkan kepadanya. Dirinya pun dibuat tidak berdaya dengan kerahasiaan yang menyelimuti kasus tersebut.
(okz)