Kepolisian Italia mulai melakukan penyelidikan untuk mencari petunjuk pelaku serangan bom di sebuah sekolah di kota Brindisi yang menewaskan seorang siswa berusia 16 tahun dan melukai lima orang lainnya.
Insiden yang terjadi Sabtu (19/5) itu mengejutkan seluruh Italia setelah bahan peledak yang dibuat dari tiga tabung gas meledak tak lama setelah sejumlah siswa tiba di sekolah di kota kecil di bagian selatan Italia itu.
Bendera Italia masih nampak berkibar setengah tiang di kota pesisir laut Adriatik itu setelah menetapkan dua hari masa berkabung mengenang tewasnya Melissa Bassi yang meninggal dunia karena lukanya yang sangat parah.
Saat ini seorang anak masih berada dalam kondisi kritis karena luka parah di bagian dada dan satu anak lagi mengalami luka di bagian kaki.
Akibat insiden ini, ribuan pemuda secara spontan turun ke jalan-jalan sejumlah kota di Italia untuk menentang kekerasan. Kebanyakan pengunjuk rasa menyalahkan krisis ekonomi yang tak kunjung selesai sebagai penyebab tragedi itu.
Sejauh ini tak seorangpun atau satu organisasipun yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan bom itu.
Menteri Dalam Negeri Italia Anna Maria Cancellieri mengatakan polisi kini tengah menyelidiki sejumlah kemungkinan dan hipotesa.
Keterlibatan mafia
Kawasan yang menjadi target serangan adalah pusat kegiatan Sacra Corona Unita, sebuah organisasi mafia lokal yang belakangan pengaruhnya semakin berkurang dan berada dalam tekanan aparat keamanan.
Organisasi ini, yang banyak terlibat dalam penyelundupan senjata, obat terlarang dan penjualan manusia melalui kawasan Balkan, diyakini berada di belakang aksi sejumlah bom di wilayah tersebut awal bulan ini yang menargetkan para aktivis anti mafia.
Pengamat menduga serangan terhadap sekolah itu karena sekolah tersebutu menyandang nama Francesca Morvillo, istri hakim Giovani Falcone yang dikenal sangat anti mafia.
Akibat keputusannya menentang mafia sang hakim bersama istri dan tiga pengawalnya tewas dibunuh oleh mafia 20 tahun lalu.
Namun, sejumlah pejabat mengatakan sangat kecil kemungkinannya jika Sacra Corona Unita mengincar warga sipil di wilayah mereka sendiri.
Selain itu bom rakitan yang digunakan sangat sederhana dan tidak cocok digunakan sebuah organisasi yang memiliki akses sangat mudah untuk mendapatkan bahan peledak.(bbc)