
MANADO - Hingga kini polemik kelangkaan bahan bakar minyak yang terjadi dan terus melanda bumi nyiur melambai belum teratasi meski pihak Pertamina sesumbar kini ada penambahan kuota bbm dari pemerintah pusat.
namun pada kenyataannya antrian panjang di spbu masih terjadi. bahkan tak jarang ada spbu kehabisan stock bbm bagaimana kondisi ini terjadi kita ikuti rangkuman berikut ini.
Ada satu pernyataan menarik dari sales manager area bbm pertamina manado irwansyah yang katanya penyaluran bahan bakar minyak atau bbm ke berbagai stasiun pengisian bahan bakar di sulawesi utara pada tahun 2012 kini bertambah seiring dikabulkannya pengusulan penambahan kuota oleh pemerintah pusat
Sudah pasti penambahan kuota ini seharusnya dapat mengurangi antrian di spbu kemungkinan lainnya dapat mengurangi kelangkaan bbm.
Jika kita mendengar pernyataan irwansyah ini sudah tentu ada harapan dan membawa angin segar di masyarakat. penambahan kuota ini akan menjadi solusi yang di cari selama ini.
Timbul pertanyaan apakah benar menjadi solusi ? Ataukah akan semakin memperparah kondisi sekarang ? nah jika kita melihat dari sisi lain saat ini di kota manado saja menjamur ratusan pedagang bensin eceran yang secara terang-terangan menjual bensin di atas harga pertamina.
Ironi!!! Lantas kenapa ? Coba anda melihat perbandingan antara pedagang bensin eceran dengan antrian warga di spbu.
pemandangan mencolok jelas terlihat. bagaimana tidak jika satu unit kendaraan baik roda dua maupun roda empat harus mengantri untuk mendapatkan jatah, namun pedagang eceran ini dengan begitu mudahnya mendapatkan ratusan liter bensin untuk mereka jual kembali ke masyarakat pengguna.
coba kita hitung berapa jumlah pedagang bensin eceran di kota manado dan kita kalikan dengan berapa jumlah bensin yang berhasil mereka beli ?
Lantas di mana pemerintah kita berada sudah tentu para pejabat ini sering melihat para pedagang bensin eceran setiap mereka beraktifitas begitu menjamur di setiap sudut jalan protokol.
lantas mengapa tidak di tindak lanjuti? Namun apakah pemberantasan terhadap pedagang bensin eceran dapat mengurangi kelangkaan bbm. jawabannya belum pasti namun apa salahnya jika pemerintah mau mencoba.
Sementara pihak pemerintah mengambil kebijakan dengan menerapkan penjatahan bbm bagi kendaraan. bayangkan satu unit mobil harus di jatah seperti yang di katakan oleh Roy Roring selaku asst II setda prov sulut yang membidangi perekonomian.
Mungkin ini lebih parah lagi, kendaraan pribadi di jatah, namun pedagang bensin eceran terus menjamur tanpa ada langkah antisipasi dari pemerintah.
lantas apakah penambahan kuota bbm menjadi solusi untuk mengurangi kelangkaan bbm? Hanya waktu yang mampu menjawab. (tim liputan ptv)