

Pernyataan mantan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir bahwa parpol sarangnya para bandit kurang lebih ada benarnya. Di samping karena niat, para politikus berubah menjadi para bandit karena sistem politik yang dibangun. Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), Ray Rangkuti, menjelaskan sistem politik di Indonesia telah memberi ruang besar bagi parpol untuk menguasai hampir seluruh posisi-posisi penting dan strategis di negara ini. "Akibatnya, kita menjadi negara serba parpol. Apapun yang menjadi kegiatan publik dan negara, karena sistem, mau tak mau harus melibatkan parpol," kata Ray saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (16/7).
Sebaliknya, lanjut dia, di luar parpol kesempatan menjadi semakin sedikit. Akibatnya, banyak orang berlomba-lomba masuk parpol atau paling tidak mengikat komitmennya dengan parpol.
"Parpol jadi serba penting dan berkuasa. Di sinilah pintu penyalahgunaan itu terjadi. Kembali ke pameo kuno, makin besar kekuasaan makin besar potensi korupsinya," ujar dia. Namun demikian, Ray mengatakan pernyataan Soetrisno Bachir tidak boleh dilihat sebagai generalisasi. Di dalam parpol, kata dia, juga banyak putra-putri bangsa yang memiliki integritas dan ingin dengan sungguh-sungguh ingin memajukan bangsa dan negara. "Tapi dalam situasi seperti ini, hanya politisi yang kuat imanlah yang selamat," ujarnya.
Sebelumnya, Soetrisno menuturkan pengalaman pahit saat terjun ke dunia politik. Menurut dia, partai politik yang seharusnya menjadi jembatan bagi pemimpin muda untuk tumbuh justru menjadi penghambat bagi lahirnya pemimpin-pemimpin baik di negeri ini. "Saya tahu dan pengalaman bahwa partai politik itu memang tempatnya bandit-bandit. Makanya saya tidak kuat dan keluar," kata Soetrisno Bachir kepada merdeka.com di Kompleks Perumahan Anggota DPR Jakarta, Minggu (15/7).
Soetrisno mengatakan, realitas sistem politik di Indonesia ternyata menghasilkan suatu mekanisme kepemimpinan nasional yang tidak baik. Ruwetnya persoalan politik itulah membuat Soetrisno keluar dari PAN. Saat ini dia lebih memilih aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). [ren/merdeka]